Selamat Datang di Website Resmi RSUD Tanjung Uban


  Contact : 0771-482655 - IGD 0771-82118

Pelatihan Basic Life Support (BLS) untuk Tenaga Pegawai Non Medis RSUD Tanjung Uban

Apakah tindakan pertolongan pertama pada korban kecelakaan hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional medis seperti perawat dan dokter? Ternyata tidak, sebab orang awam pun dapat melakukan tindakan pertolongan Basic Life Support / BLS terhadap korban yang tengah berada pada situasi gawat darurat yang mengancam nyawa hingga ia mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Sehubungan dengan hal tersebut Bagian Diklat RSUD Tanjung Uban bekerja sama dengan Bapelkes Batam menyenggarakan In House Training Basic Life Support bagi pegawai non medis pada tanggal 9-10 Juni 2014 bertempat di Gedung Manajemen Baru RSUD Tanjung Uban.
Pelatihan ini diikuti oleh 60 pegawai non medis di RSUD Tanjung Uban dalam rangka meningkatkan pelayanan dan sebagai persyaratan dalam Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 .

Ketika menemukan korban yang tak sadarkan diri, segera panggil bantuan medis. Cek respon korban dengan memanggil namanya, memberi nyeri, baik itu di kuku, dicubit, dan lain sebagainya. Bila tidak ada respon, lihat dan rasakan napasnya. Kemudian setelah dipastikan tidak ada napas, berikan korban Basic Life Support sampai ada tanda-tanda korban bernapas dan sampai bantuan medis datang. Hal tersebut seperti diungkapan oleh Ns.Devi Melyana Sari, S.Kep, M.Si selaku salah satu narasumber dari Bapelkes Batam dalam pelatihan tersebut.

Jenis pertolongan BLS yang diberikan dibedakan sesuai keahlian dan keterampilan orang tersebut, yaitu bagi orang awam tak terlatih (non-training person), orang awam terlatih, serta dokter dan perawat (highly trained). BLS yang dapat dilakukan oleh orang awam yang sama sekali tidak memiliki background keilmuan yang berhubungan dengan BLS, maka bentuk pertolongan BLS yang bisa dilakukan adalah chest compressiont atau yang dikenal dengan pijat jantung. Tindakan ini termasuk kategori hands-only CPR yang cukup sederhana aplikasinya, yaitu dengan menggunakan satu tangan bertumpu pada telapak tangan di atas tulang dada.

Foto. Dyandra (Humas) sedang melakukan praktek CPR Untuk penolong yang tergolong orang awam terlatih dapat melakukan pijat jantung dan napas bantuan (rescue breaths) yang dinamakan 30:2 CPR. Maksud dari 30:2 CPR ialah perbandingan pijat jantung dan bantuan napas yaitu sebanyak 30x pompaan dan 2x tiupan napas. Untuk memudahkan penolong, maka cara berhitungnya adalah 1, 2, 3, 4 (SATU); 1, 2, 3, 4, (DUA) dan seterusnya sampai hitungan ke-enam dengan total 30x pijatan. Pada hitungan ke-tiga dan ke-enam, bila memungkinkan berikan napas buatan. Dalam melakukan tindakan pertolongan BLS tersebut yang perlu diperhatikan adalah keamanan/safety bagi penolong, korban dan lingkungan. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk menggunakan Alat Pelindung Diri bagi penolong untuk melakukan tindakan CPR tersebut.
Diharapkan dengan adanya pelatihan ini segenap pegawai RSUD Tanjung Uban tanpa terkecuali bisa mempraktikkan BLS di kehidupan nyata. Jadi, ketika berada di situasi gawat darurat, kita tidak sekadar panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Dengan pijat jantung saja mungkin nyawa seseorang sudah bisa tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *