Selamat Datang di Website Resmi RSUD Tanjung Uban


  Contact : 0771-482655 - IGD 0771-82118

Pelatihan SIT dan Sosialisasi Manajemen Nyeri di RSUD Tanjung Uban

IMG_3593

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan Pelatihan Safe Infusion Theraphy (SIT), Hand Hygiene dan Sosialisasi Manajemen Nyeri Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Uban bekerja sama dengan B Braun digelar pada tanggal 19 April 2016 lalu yang diikuti oleh 47 orang perwakilan dari berbagai instalasi. Pelatihan yang dilaksanakan di Aula Gedung Manajemen RSUD Tanjung Uban. Peserta berjumlah 47 orang yang berasal dari perwakila instalasi rawat inap, poliklinik, kamar bedah, ICU, IGD, Hemodialisa, Isolasi serta dokter umum.

Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Tanjung Uban, Isra Gigantara mengatakan, di dalam akreditasi Rumah Sakit baruversi 2012 ada kewajiban dari pihak RS untuk memberikan pelayanan pasien dengan mengedepankan pengelolaan rasa nyeri sebagaimana dinyatakan secara jelas pada standar 6 Pokja Pelayanan Pasien (PP) dimana mewajibkan pasien dibantu dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif. “Oleh karena itu rumah sakit dituntut memiliki proses untuk asesmen dan pengelolaan rasa nyeri yang sesuai mulai dari identifikasi pasien yang nyeri pada waktu asesmen awal dan asemen ulang, menyediakan pengelolaan nyeri sesuai pedoman dan protokol komunikasi dengan mendidik pasien dan keluarga tentang pengelolaan nyeri dan gejala serta mendidik para praktisi pelayanan kesehatan tentang asesmen dan pengelolaan nyeri. Itu dapat dilakukan dengan sosialisasi dan memberikan pelatihan kepada pihakpihak terkait yang menangani bidang
ini,” kata Isra kepada Kabar Medika.

Narasumber pada Pelatihan Safe Infusion Theraphy, Hand Hygiene Dan Sosialisasi Manajemen Nyeri bagi pegawai medis RSUD Tanjung Uban berasal dari luar rumah sakit yaitu PT B. Braun dan pihak Rumah Sakit yaitu dr. Farah Soraya, Sp.An. Dalam standar manajemen organisasi pelayanan kesehatan, terdapat 6 standar yang salah satunya adalah pencegahan dan pengendalian infeksi (prevention and control of infections) yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan diantara pasien, staf, profesional kesehatan, pekerja kontrak, relawan, mahasiswa dan pengunjung. Hand hygiene merupakan salah satu cara untuk mengurangi infeksi yang berkaitan dengan perawatan kesehatan. Penelitian menjelaskan bahwa hand hygiene yang dilakukan oleh semua pegawai rumah sakit dapat mencegah terjadinya hospital acquired infections (HAIs) sebesar 15-30 % (Grol R, 2003 & Lautenbach, 2001).

Banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan  kepatuhan hand hgyiene namun umumnya tidak efektif dan berjangka pendek. Sehingga penting untuk mencari strategi berbasis bukti yang jelas untuk meningkatkan kebiasaan hand hygiene. Pelatihan tersebut digelar oleh Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bekerja sama dengan B Braun yang memandang perlu untuk mengadakan Pelatihan Safe Infusion Theraphy, Hand Hygiene Dan Sosialisasi Manajemen Nyeri Bagi Pegawai Medis RSUD Tanjung Uban itu. Sementara itu tujuan pelatihan tersebut ialah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pegawai rumah sakit tentang pencegahan dan pengendalian infeksi sehingga dapat melindungi pegawai rumah sakit dari penularan penyakit infeksi. “ juga memberikan pemahaman tentang manajemen nyeri serta meningkatkan kemampuan peserta tentang pengelolaan nyeri secara efektif,” kata Isra.//red//