Selamat Datang di Website Resmi RSUD Tanjung Uban


  Contact : 0771-482655 - IGD 0771-82118

Lima Orang Dokter PIDI Praktik di RSUD Tanjung Uban

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Uban menerima 5 orang sarjana kedokteran yang masuk dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) untuk praktik di rumah sakit yang berada di salah satu provinsi perbatasan.

Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) adalah sebuah harapan untuk perbaikan sistem kesehatan di Indonesia. Disamping bertujuan untuk menjaga kualitas kompetensi dokter, program dokter intership juga diproyeksikan untuk meratakan distribusi tenaga dokter hingga kedaerah-daerah terpencil dan daerah bermasalah kesehatan.

Dokter Intership merupakan suatu program “Pre-registration trainning sebelum mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bagi dokter yang baru menyelesaikan masa pendidikan profesi berbasis kompetensi.
Tujuannya untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan.
Dr Dessi, dokter muda lulusan Universitas Paramadina, Jakarta ini mengaku tertantang untuk bertugas di daerah terpencil seperti di Bintan, Kepulauan Riau ini. Bahkan, sebelumnya dirinya berkeinginan untuk bertugas di Papua.
“Tapi setelah tanya-tanya dengan teman disini juga baik untuk menguji kemampuan survival kita, walaupun sebenarnya disini masih tergolong mudah aksesnya kemana-mana,” kata Dessi yang berasal dari Kalimantan ini.
Selama bertugas di RSUD Bintan, pengalaman yang cukup berkesan saat mengantarkan seorang pasien kecelakaan lalu lintas yang harus mendapatkan perawatan yang lebih intensip di salah satu rumah sakit di Batam. Dengan mobil ambulance Dessi bersama petugas medis lainnya mengantarkan pasien tersebut dengan kapal roro, namun mobil ambulance yang sedang membawa pasien tersebut tidak dapat masuk ke kapal roro karena alasan security clearance.
“Padahal saat itu kondisinya darurat, kapal juga belum berangkat dan kalau diijinkan sebenarnya ambulance bisa ikut kapal itu. Terpaksa kami menunggu kapal berikutnya. Saat itu rasanya mental, kesabaran kita menyaksikan pasien yang membutuhkan pertolongan sedang diuji,” kata Dessi.
Selain dokter Dessi, ada empat dokter lainnya, Syamsul, Bobby, Ayes, dan Novita. Mereka bertugas di bagian yang berbeda untuk menguji lapangkan kompetensi yang dimiliki para dokter muda ini.
Ketua Komite Intership Dokter Indonesia (KIDI) Prof Dr Mulyohadi Ali, dr., SpFK belum lama ini kepada wartawan mengatakan, mereka yang disebut sebagai peserta program Internsip, adalah dokter yang telah lulus program studi pendidikan dokter dan telah lulus uji kompetensi, namun belum mempunyai kewenangan untuk praktik mandiri.

TRANSPARAN DAN DIUNDI
Sejak program ini diluncurkan bulan Maret tahun 2010, hingga awal November 2012 sebanyak 5.830 dokter baru telah mengikuti program internsip dan ditempatkan di 25 propinsi didaerah-daerah yang membutuhkan, yang memiliki sarana pelayanan kesehatan primer minimal type C dan D.
Penempatannya sendiri, dilakukan secara transparan dengan cara diundi. “Sebelum ditempatkan, ke 25 provinsi tersebut dilakukan mapping terlebih dahulu untuk dilihat skala prioritasnya mana yang lebih membutuhkan dan kekurangan tenaga kesehatan. Namun, tentunya dilihat daerah mana yang memiliki sarana pelayanan kesehatan type C dan D,” jelas Mulyohadi.
Proses pengundiannya, untuk wilayah DKI Jakarta dilakukan oleh KIDI pusat, namun untuk daerah dilakukan oleh KIDI provinsi melalui supervisi dari KIDI Pusat. Sedangkan, pada tahun 2013, pemilihan tempat melalui sistem online, sehingga bisa dilakukan lebih transparan dan terintegrasi.
“Dengan sistem online, peserta program dokter internship juga dimungkinkan untuk memilih sendiri daerah yang diminatinya. Tapi tetap mengacu pada daftar daerah yang telah ditetapkan,’ ujarnya.
Dalam praktiknya, para dokter yang baru tamat ini akan didampingi oleh seorang dokter pendamping atau supervisor. Dimana satu dokter pendamping untuk dokter internsip yang ditempatkan. Pembiayaannya, sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

DIBERI INSENTIF
Tak jarang, pemerintah daerah juga memberikan intensif kepada para dokter internship tersebut. Bahkan di Provinsi Kalimantan Timur, dokter internship yang berpraktik ditawarkan untuk menjadi pegawai negeri sipil.
“Begitupun didaerah lain, ada juga pemerintah daerah yang memberikan fasilitas tambahan dan intensif bagi dokter-dokter yang berpraktik diwilayahnya,” jelas Mulyohadi.
Jangka waktu praktik bagi dokter intership adalah satu tahun, yaitu 8 bulan berpraktik di RS type C atau D, dan 4 bulan di Puskesmas Kabupaten/Kota.
“Dokter adalah pelayanan masyarakat, bukan elite tertentu yang hanya diam dikota. Hal ini harus disadari mulai sejak mereka menekuni dunia kedokteran,” kata Mulyohadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *